Skip to content

that’s life…?

March 29, 2009

Hari ini tak secerah hari kemaren. Keriangan juga tak terlihat di wajah-wajah anak muda ini. Awan gelap dari arah Barat digerakkan oleh angin dengan laju yang lebih besar dari biasanya, bergerak menutupi langit-langit kota kecil tempatku sekarang. Perlahan, kristal halus dan mengandung butiran air mulai membasahi permukaan bumi. Terjun bebas tertarik gravitasi menawarkan kesejukan dan kelembaban menggantikan panas terik mentari yang sangat membakar kemaren siang. Terik dan sejuk silih berganti memutar siklus kehidupan dan atau kematian beragam makhluk di permukaan kerak bumi Pulau Sumatera. Hukum alam, siklus alam, peristiwa alam, segala hal-hal yang diberi atribut “alamiah”, saat ini sedang diserbu tanda tanya yang tak habis-habisnya keluar dari bagian depan tengkorak kepalaku yang kecil ini.

Tanda tanya terbesar kini hinggap dan menerobos benteng pikiran atas peristiwa mengejutkan sepuluh hari yang lalu. Hujan sore ini menambah pelik persoalan dan suhu dingin dataran tinggi Siborong-borong seolah ikut-ikutan mendramatisir suasana, melumpuhkan akal pikirku dengan tanya tak terumuskan, tak terbantahkan, tak terjawab. Tanda tanya yang terletak di akhir tumpukan kata, “kenapa temanku meninggal?”, “semuda itu?”, “secepat itu?”, ohh…

Terkejut. Iyah, siapa yang tak terkejut bila tiba-tiba mendengar kabar duka, seorang teman telah menyatu dengan tanah, beberapa meter dikedalaman sana, dan tak satupun teman almarhum yang tahu, bahkan hadir di hari keberangkatannya ke liang lahat pun tidak. Keterlaluan. Seketika alam pikirku menghina, meraung, meracau, menohok relung, menguras rasa dan akal, seraya berkata kurang ajar kau sebagai manusia!!!.

Tak ada sesuatu kata yang mampu terucap selain terdiam, membisu, dingin, dan tanda tanya itu tak kunjung pergi. Sore ini, kami beberapa dari rekan satu almamater almarhum memutuskan untuk datang ke rumah tempat sahabat kami di besarkan oleh keluarga, orang tua, sanak saudara dan handai taulan. Di rumah ini, di lantai kayu papan ini, masih terbayang olehku sepuluh hari yang lalu, sosok tubuh kaku, dingin tak bernyawa, tergeletak, terkujur membisu, dalam sebuah peti kayu dengan simbol salib ditengahnya, sementara teman-teman tak ada disisinya, bahkan hingga detik terakhirnya di perhentian sementara ini. Kucoba menepis bayangan itu, namun raungan, jeritan, histeria yang disertai air mata sang ibu kian mengucur lebih deras dan keras, menikam gendang telingaku masuk dan menusuk tiap-tiap sel dalam tubuhku. Air mata sang ibu berbicara khusuk dalam seribu satu tanya, “kenapa puteriku meninggal?”, “semuda itu?”, “secepat itu?”, “mendahului aku ibunya, ayahnya?”, “ohh Yang Kuasa, apa yang sedang terjadi padaku?”…

Dan ketika sepasang mata sang ibu bertemu dengan tubuh-tubuh muda kami, ia tak kuasa menatap wajah-wajah kami dan ia semakin menjadi-jadi dalam jerit tangisnya. Ohh…Iska…lihatlah teman-temanmu ini datang, ohh iska…hilang sudah keceriaanmu bersama teman-temanmu ini, semuda kau puteriku!!, secepat itu puteriku!!, putriku Iska… dimana kau berada nak? teman-temanmu datang ke rumah kita anakku… dan tangis itu terus berlanjut… Ucap sang ibu lirih, ia melihat wajah puterinya Iska dalam wajah-wajah kami…yang sore ini bersama hujan dari langit, tertunduk membisu…

Dan hari ini, tanyaku pada hukum alam, pada kehidupan, dan pada kematian, menuntut jawab!!

Dan Tangis, dan air mata, satu-satunya ekspresi terdalam dan teragung yang dihaturkan oleh nurani. Ratap. Ia kerap melambangkan cinta dan harapan. Dan mati pada akhirnya menaklukkan hidup. Barangkali untuk menyampaikan pesan kepada sang manusia akan keterbatasannya. Kekuatan cinta dan harapan pada akhirnya tak cukup kuat untuk mempertahankan hidup. Selain berserah dan menerima segala sesuatunya, dan berharap bahwa mati hanyalah satu bentuk jalan kehidupan yang berbeda. Ia yang telah dahulu, abadi selamanya.

Hanya dengan matilah manusia menghargai hidup. Sebaik-baiknya. Bahwasannya hidup itu singkat.  Dan mati itu selamanya…

Turut berduka atas peristiwa duka ini. Teman yang telah dahulu…kami tak tau hendak berkata apa, kala engkau dihadapkan dengan satu hal yang tak terelak, yang tak ada kata mungkin untuk dilawan, selain hanya berpasrah kepada sang khalik, dan menerima apa terjadi dan selanjutnya melanjutkan hidup…….

Untuk Sahabat
Iska Sihombing
Alumni Yasop 2001
“Selamat Jalan dan …….. “

Advertisements
One Comment leave one →
  1. k0nt0ltup41 permalink
    June 27, 2009 08:54

    Oiii… Sattabi… Koq belum ada yang komen?? Awak pertamaxlah kalo gitu…

    Cemana kabar buoy??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: