JSS
Adalah ia yang dilahirkan ke dunia di Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba. Ia lahir, tumbuh, berkembang, dan belajar mengenal dunia pada transisi abad-20 ke abad-21. Ia adalah salah satu dari generasi yang dipersiapkan dengan segala kenikmatan dan kemewahan yang dihasilkan abad-20 memasuki babad baru Sejarah Dunia, Abad-21. Beberapa orang menyebutnya Generasi Millenia (generasi kelahiran 80-an).Yang oleh beberapa Prophetic-Believer dinubuatkan akan menjadi generasi pembaharu. Generasi yang akan membawa arus perubahan jaman dengan semangat progressive. Generasi yang tidak lagi tersekat-sekat oleh miskinnya pemahaman paradigma dan maraknya justifikasi sepihak yang kerap menghasilkan pemikiran-pemikiran pro dan kontra, dan malah sering dijadikan alasan untuk menumpahkan darah sesama dengan bendera cliche ‘perang atas nama …’. Ia adalah hasil karya jaman dengan generasi yang bernalar comprehensive. Lahir dari pemahaman yang menyeluruh dan manunggal. Orang bilang kebanyakan pengaruh hulu pemikiran pada generasi ini adalah Holistik-Thinker. Mind-Body-Spirit, tiga hal yang tak terpisahkan satu sama lain, namun juga memiliki keunikan satu terhadap lain. Benar atau tidaknya nubuatan tersebut, hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, sepanjang manusia mampu menumbuhkan mind-body-spirit yang ia warisi menjadi sesuatu ‘nalar’ yang lebih baik, masih ada kekuatan menjalani jaman yang serba tidak pasti ini, masih ada kreaetifitas menemukan jalan-jalan baru menghadapi dunia yang penuh dengan kemungkinan tak terbatas ini, masih ada harapan akan esok yang kaya senyum dan keindahan. Semoga.
Sebagai hasil karya pada jamannya, Ia kerap menyebutnya sebagai jaman generasi keberuntungan (The Lucky Generation). Bagaimana tidak, berbagai fenomena silih berganti mengisi kehidupannya, kesehariannya, yang mungkin saja belum pernah terjadi pada jaman sebelumnya. Belum pernah dirasakan oleh sejarah kemanusiaan pertumbuhan populasi manusia sedrastis ini, pertumbuhan kota-kota besar dan megah sehebat sekarang, perkembangan sains dan teknologi dengan akselerasi super cepat dan super canggih, dipadu dengan dentuman informasi dalam jumlah yang sangat besar. Jika konon katanya moyang Batak mampu menerbangkan batu (losung), hari ini manusia telah mampu menerbangkan pesawat, satelit, menjelajah angkasa – menjejakkan telapak kaki di Bulan, meneropong sejauh antar galaksi, sedekat antar 23 jumlah pasangan genome. Dahysat bukan jaman yang ia jalani. Kini, ruang, waktu dan jarak bukanlah menjadi soalan. Ke-maya-an dunia virtual kini sudah semakin ke-nyata-an. Menjadi bagian dari aktifitas keseharian makhluk manusia yang terhubung ke seantoro dunia, tanpa sekat. Melalui jendela monitor kecil dihadapannya, ia dapat menatap indahnya dunia, tanpa batas. Namun, tak menutup kemungkinan ia juga telah berkenalan tidak hanya dengan indahnya dunia. Juga akan bobroknya dunia, rusaknya dunia, hancurnya sendi-sendi dunia lama. Ia terkadang muak dan sesak dengan berbagai fakta dan fenomena kekinian yang merasuk dalam-dalam ke sumsum kehidupan sosial manusia, yang menggambarkan betapa manusia kerap lupa diri, lupa anugerah, lupa akan keindahan. Hingga ke-lupa-an ini seringkali sebagai sumber bencana dan malapetaka kemanusiaan. Perang, Hitler, perebutan kekuasaan, pembantaian ras, dsb adalah contoh-contoh yang kian akrab di telinga kita.
Singkatnya, sisi dunia yang indah juga dibarengi oleh dunia yang menderita penyakit ‘lupa’ akut kronis. Tak perlu kita menghabiskan energi dengan hal-hal yang justru malah menghambat laju pertumbuhan, begitu ia kerap berbicara. Sedapat mungkin, setiap orang yang sudah mampu menyembuhkan diri dari penyakit ‘lupa’ ini, semestinya mampu menjadi inspirasi bagi kawan seperjalanan, bagi tanah air, bagi dunia, istilah yang kerap ia lontarkan.
Ia kini bertemu dengan anda. Anda yang berasal dari seantoro Nusantara dan dunia, dengan beragam latar belakang. Harapnya dapat terjalin sebuah komunikasi dan saling pengertian. Bahwasannya dari sekian banyak perbedaan yang memisahkan kita, ‘ada’ yang ternyata menyatukan kita. Menjadi tugas kita “menemukan benang merah” itu. Benang merah yang berkata bahwa kita manusia, apapun latar belakangnya, apapun situasi dan kondisinya. Kita semua berkawan dan bersahabat. Dengan begitu banyak ragam perbedaan, dari warna kulit, bentuk wajah, jumlah rambut, karakter dan personaliti, hereditas dan perbedaan lainnya.
Apakah yang menyatukan kita? Mari bersama menjawab dan menginspirasi.
Mengertilah…
Mengertilah, bahwa semua diciptakan itu baik
Mengertilah, bahwa kita ada bukan ‘tuk menghancurkan semua yang ada
Mengertilah, bahwa kita bisa ciptakan surga disini, dengan tangan ini
Mengertilah, bahwa kita bisa hancurkan segala keangkuhan, dengan semangat ini
Mengertilah, bahwa kita bisa damaikan segala perbedaan, dengan semangat ini
Jika kita tak lupa, Berteriak…dan Berteriak…
Karena Cinta…
[Prosa 'Mengertilah' ditulis oleh Ia bersama seorang sahabat seperjalanan kala masih bersua di Bumi Ganesha. Prosa ini juga akhirnya menginspirasi Ia dan sobatnya mencipta ke dalam nada dan harmoni mengiringi gema semangat sang petualang dalam kelana tak berujung]





Blog walking…
salam kenal