comrade, dengarkanlah
tetaplah menggores mata penamu, comrade
tetaplah menyayat tajam lukismu, comrade
tetaplah menggelora gelegar gumammu, comrade
tetaplah nyalakan perapianmu, comrade
tetaplah asah armour dan senjatamu, comrade
akan tiba saatnya perang bergemuruh, comrade
akan tiba saatnya berdiam diri ternyata tidaklah cukup, comrade
akan tiba saatnya maju ke medan tempur adalah harga yang harus dibayar, comrade
akan tiba saatnya ksatria sejati yang diasah pukulan martil dan bara api, bersinar, comrade
hingga menutup mata berselimut keindahan
karya : The Blacksmith and The Whitesmith
hibernasi
menunggu malam berakhir
berharap fajar menantang
membunuh malam berkepanjangan
hibernasi
-tak sadar sudah 6 bulan dahulu- masihkah kami hidup 6 bulan nanti?
GL100, sepeda motor Juan, pemberian kakek yang sudah tiada. Buatan
pabrik motor Jepang pada tahun 80an. Sepeda Motor yang tak pernah
rewel pun tidak butuh perawatan tinggi. Masih siap dipakai
mengantarkan sekarung beras ke pasar.
Sesekali, mata Juan terkadang silau melihat Honda Tiger punya kawan
yang mampu dipacu dengan kecepatan tinggi. Bergaya. Tidak sedikit
gadis-gadis yang rela menjajakan dirinya asalkan bersama pria
bersepeda motor Honda Tiger.
Juan memarkirkan motor tuanya di sebuah pelataran parkir luas, tak
lupa dipasangkan kunci ganda. Empat orang lelaki dengan peralatan
montir di kiri dan kanan tangan, sedang menunggu. GL100 itu
sepertinya mengalami perubahan. Beberapa elemennya terlihat baru dan
mengkilat. Dari sekilas pengamatan, motor tua itu telah menjadi
GL100 baru dengan berbagai modifikasi disana sini.
Sekian rupiah bang, seru salah seorang montir itu menyapa Juan.
Dalam benaknya Juan bergumam, ahh aku tak percaya dengan uang.
Bagiku itu hanya kertas-kertas kosong. Pun kertas-kertas itu
terletak pada nomor sekian dalam list catatan harian Juan. Tapi saat
ini, ada harga yang harus segera dibayarkan.
Sebentar, saya tidak meminta anda-anda ini untuk memodifikasi motor
tua itu, balas Juan. “…bukan begitu kawan, kami hanya mencoba
berbuat baik kepadamu, menolongmu untuk memperbaiki motor-tua mu
itu. Lihatlah motormu sekarang, Baguss bukan!!!…” . Tapi…. saya
kan tidak meminta kalian untuk mengutak-atik benda tua
itu…syaaaatttt! !! segera benda tumpul setengah tajam itu mendarat
di leher Juan. “…heh kau diam aja. Kami sudah bersusah payah
menolongmu, membantumu memodifikasi motormu. Yang kami minta, kau
membayar jerih payah kami sebagai bentuk penghargaanmu kepada kami.
Juan mencoba menenangkan suasana, tenang..tenang kawan, tidak harus
seperti ini caranya. Letakkan golokmu, kita tidak bisa memprediksi
apa yang akan terjadi dengan golok di tangan, hati-hati kawan, nyawa
bisa melayang. “…DIAM!!! itulah fungsinya golok, bisa
menyelesaikan segalanya. Sekarang juga kau harus bayar jerih payah
kami, kalau tidak, kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan
lehermu ini.
Dalam kepasrahan Juan merogoh semua isi kantongnya. Kawan.. lihatlah
hanya ini uang yang ada di kantongku, tak cukup uangku untuk
membayar kalian. Aku tidak memiliki apa-apa di dunia ini selain
motor tua itu. Itupun hanya pemberian dari kakek yang sudah tiada.
Arghh dasar orang miskin, tak bisa diharapkan. Sudahlah kalau
begitu. Kalau memang kau tidak mampu membayar, maka motor-tua mu ini
sebagai ganti bayarannya. Mulai sekarang motor tua mu ini akan
menjadi milik kami, tohh harga modifikasi yang kami lakukan lebih
mahal dari harga motor tua mu ini.
Juan terduduk pada sebuah batu di pinggir jalan, menyaksikan
motor-tuanya berlalu.
satu..dua..delapan orang rekan-rekan sedang bersiap menjelang camping ke pelataran Tangkuban Perahu. Silau. Golok putih bersih itu menyita perhatianku. Wah…goloknya bagus, stainless stell seruku kepada rekanku. Dia hanya melempar senyum sambil beratraksi , menirukan gaya ala pendekar pedang seribu bayangan. Hahahaha. Sini pinjam, kugenggam golok itu. Tidak terlalu berat, lantas akupun ikut-ikutan menirukan jurus-jurus pendekar pedang yang berakhir dengan pose Pangeran Pattimura.
Entah tiba-tiba… sekonyong- konyong aku berlari sekuat tenaga menghunus golok bersinar itu. Tak pelak pohon tua yang berada tak jauh dari tempat kami menjadi sasaran empuk.
Lima tahun yang lalu pohon tua itu menjadi saksi bisu ketika kami mahasiswa baru asik berdiskusi di bawah rantingnya yang rindang yang melindungi kami dari sengatan panas matahari. Pohon tua itu juga yang menjadi saksi bisu ketika kami tak bosan-bosannya menghabiskan waktu bernyanyi, berdendang lagu-lagu perjuangan mahasiswa, sambil berorasi darah juang. Tidak terhitung juga jumlah oksigen yang diberikan pohon tua itu selama lima tahun ini. Apakah selama ini dia memperhatikan tindak tanduk kami? kenapa pohon tua itu diam saja? ataukah kami yang terlalu angkuh untuk mencoba mendengarkan bisikannya?
Keangkuhan itupun berlanjut ketika Golok putih itu sekali…duakali. ..tiga kali… dan berkali-kali menebas, menghujam batang pohon tua itu. Sobekan golok itu cukup dalam, cukup dalam sehingga mengakibatkan cairan pohon itu mengalir cukup banyak. Adakah pohon itu berdarah? Rekan-rekanku tertawa girang dan kesenangan menyaksikan kegilaanku yang membabibuta mencoba menebas batang pohon tua itu. Ohh apa yang telah aku lakukan? Tiba-tiba perutku terasa mual, ingin muntah saja rasanya. sakit. Apa yang terjadi?
Aku lari. Bersembunyi di tempat persembunyianku, tempatku biasa mencoret-coret kertas dan terkadang merobek-robeknya. Hehehehe, sinis dan mengejekku, tawa siapa itu? entahlah… Kata mereka pohon lebih bijaksana dari manusia. “…ahh bullshit kataku”. Lalu kata mereka lagi, Ingatkah engkau saat kau genggam Golok tajam itu, lalu membabibuta menebas batang pohon itu? “..ahh tolong jangan bawa kembali ingatan itu, aku muak. tohh aku akan melupakannya, pohon doang!!. Hmmm….pernahkah terpikir olehmu, jika tiba-tiba pohon itu Marah dan membabibuta mematahkan rantingnya sendiri, lalu jatuh menimpa tepat diatas kepalamu itu? serunya. “…aku terdiam, tak tau mo jawab apa lagi”.
Lalu mereka berkata lagi, Tapi tahukah kamu kawan, bahwa pohon tua itu tidak melakukan itu. Dia tidak mematahkan rantingnya. Dia tetap melindungimu dari panas terik mentari baik pada saat kalian berdiskusi, bernyanyi dan bahkan saat kau menebas batangnya.
Hei..kawan.. .Jika kata maaf cukup untuk menyembuhkan luka batang pohon tua itu, seribu maaf akan kuucapkan. “..Tidak… pohon tua itu tidak butuh kata maaf darimu kawan”. Dalam diam-nya dia hanya meminta kamu untuk melakukan satu hal. “..apa itu?”.
Jadilah manusia…..
-memori bersama pohon dan golok, seorang anak manusia, kemaren.-
Horas,
abang/kakak/rekan yang terhormat
Sabtu, 15 Maret 2008,
bertempat di rumah kontrakan Indra Tambunan (yasop 2002).
Sekitar 25 orang alumni yasop yang masih rata-rata kuliah, dan diwakili dari berbagai angkatan (2002-2007), mencoba mengungkapkan pemikiran tentang situasi dan kondisi almamater yasop saat ini.
Berawal dari pembahasan perubahan visi besar yasop, tak ada satupun kepala yang tidak tertunduk dan miris menyaksikan perubahan jaman ini. Konsep-konsep permasalahan sosial bonapasogit, kemiskinan, pendidikan yang semakin komersil, masalah korupsi yang tidak kunjung penyelesaiannya, sumber daya alam bumi pertiwi yang dikeruk habis-habisan oleh pihak-pihak tertentu, menjadi sangat akrab di telinga kita. Hingga pada titik kulminasi seolah-olah kita tidak bisa berbuat apa-apa, menyerah akan beratnya tekanan dan tuntutan hidup. Padahal bukankah seharusnya hidup ini kita sikapi dengan pemahaman bahwa “na lao salpu do sude na adong di portibi on”. sebuah pameo yang cukup terkenal akan menjadi landasan kita
Apa yang dimiliki akan ditinggalkan, Apa yang diberikan akan dibawa selamanya.
Bahwa Hidup adalah pencarian makna hakiki kemanusiaan, bahwa ada sesuatu yang lebih valuable dari sekedar pencarian kesejahteraan yang bersifat materi.
Bahwasannya kesadaran, tanggung jawab moral, merupakan hal-hal yang sangat bernilai, dan patut kita perjuangkan.
Kita tidak bisa menerima, visi besar Yasop runtuh hanya karena persoalan materi, persoalan komersialisasi yang justru akan semakin menjumudkan arti pendidikan yang sebenarnya. Karena apa? karena kita adalah Bagian dari Yasop, keruntuhan yasop adalah keruntuhan kita sebagai anak-anak yang dihasilkan ibu pertiwi almamater asrama Yasop. Kegagalan yasop mempertahankan visi pendidikan gratis adalah kegagalan kita.
Insan-insan terdidik yang lahir dari rahim asrama Yasop
Saatnya kita jujur pada diri sendiri, kita tidak mau sang almamater menjadi sebuah institusi pendidikan yang mengerdilkan arti pendidikan dan pengabdian dengan sejumlah ongkos rupiah sebagai kompensasinya. Lima belas tahun sudah perjuangan itu berkibar, Lima belas generasi sudah dilahirkan dari rahim Yasop. Saatnya kita jujur pada diri sendiri, Apakah kejujuran, kerelaan, kolektifitas, memang terlalu mahal harganya? Kita mesti berbuat sesuatu, kita mesti mempertahankan nilai-nilai ini. Kita mesti melanjutkan tongkat estafet perjuangan pendahulu-pendahulu kita.
Dengan semangat ini, 25 orang paryasop muda yang masih kuliah menyatakan komitmen dan inisiatif. Kita bukanlah generasi yang takut bereksperimen, kita bukanlah generasi yang gampang menyerah dengan keadaan, kita bukanlah generasi pecundang, yang lari dari tanggung jawab moral. Kita mesti menjaga nilai-nilai itu.
Dengan komitmen ini 25 orang yang hadir, yang menyatakan mewakili rekan-rekan mahasiswa lainnya, sebagai langkah pertama bertekat Menyisihkan sebagian berkat dari yang kuasa berupa uang Rp.xxxx perhari untuk pendidikan asrama Yasop. Kita tidak menilai dari besar/kecilnya apa yang bisa direlakan dengan tulus dan jujur, tapi kita mau memupuk Semangat kolektifitas, Semangat pengabdian, kerelaan, dan kejujuran, Semangat bertanggung jawab akan pendidikan generasi muda, karena bagi kita semangat mengalahkan segalanya.
Dengan demikian pada tanggal 30 Maret 2008 adalah momen pertama kita akan membuktikan semangat itu. Seribu langkah dimulai dari satu langkah kecil.
Kita mengajak semua abang/kakak/rekan terdidik alumni Yasop, Bersama kita Bisa, Lets Do It Together, If we Hold On Together….there’s nothing we can’t do. May God Bless Us.
Akhir kata terinspirasi dari satu lagu wajib selama masa pendidikan di asrama Yasop, mari kita sejenak mengenang masa-masa perjuangan, tiga tahun pendidikan gratis yang kita nikmati, hidup matinya Visi ini ada ditangan kita.
I want to be
A day to give
The best of me
I’m only one
But not alone
My finest day
Is yet unknown
Fought every gain
To taste the sweet
I face the pain
I rise and fall
Yet through it all
This much remains
I want one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity
I’ve lived to be
The very best
I want it all
No time for less
I’ve laid the plans
Now lay the chance
Here in my hands
Give me one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity
You’re a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time
Make it shine
Give me one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time
I will be
I will be
I will be free
I will be
I will be free
Hidup terdiri atas momen-momen, dan momen-momen adalah milik kita.
Salam dari anggota Paryasop yang sedang kuliah di Bandung.
Tuhan Beserta Kita.




