COMMANDO

2009 January 14
by sattabi

Begini ceritanya, saya dan seorang teman lagi nongkrong di sebuah tikungan. Menikmati rujak buatan kampung. Di warung yang baru kami singgahi itu ada dua orang pak polisi. Kebetulan kedua polisi itu kenal dengan teman saya. Teman saya ini selain termasuk anak muda ugal-ugalan juga kerap melakukan “transaksi”. Aku tak tau transaksi apa, ia dan kawan lainnya hanya menggunakan bahasa-bahasa kode dan tanda. Dan saya sudah seperti mengerti, bahasa tanda mereka adalah bahasa transaksi tukar menukar koleksi narkoba dan obat-obatan, barangkali…Nah, herannya si 2 orang pak polisi tadi juga berbahasa kode dan tanda dengan teman saya ini. Dan seperti merengek-rengek polisi yang satu itu seolah meminta diberi paket atau apalah namanya. Tidak malu-malu. Teman saya berkata “lagi kosong kita katua, macem manalah dibikin”, “sabarlah dulu pak ketuaku”… inilah dulu ya.., Rp.100ribu melayang dari dompet ke tangan pak polisi itu. Resmilah…transaksi jamaah bawah tanah terjadi di depan hidungku sendiri. Aku diam saja mengamati. Barangnya tak keliatan, buktinya tak ada. Lagian teman sendiri.

Nah, jalan di kampung ini memang lebarnya tak seperti jalan-jalan di kota. Kira-kira 1 1/2 lajur lah. Sehingga kalau mobil papasan, yang satu harus mengalah, ‘ngambil badan jalan.

Dari jauh kami sudah melihat ada mobil polisi patroli bergerak mendekati warung tempat kami makan yang kebetulan persis berada di tikungan tersebut, dengan kecepatan lambat. Dari arah berlawanan bergerak satu pengemudi sepeda motor. Bonceng tiga, tanpa helem, lengan kaos hitam puntung, rambut jabrik, anak muda, kira-kira tamatan SMA lah. Mereka tak melihat ada mobil bergerak dari arah depan, karena memang jarak pandang dihalangi oleh warung. Anak muda mengendarai sepeda motor bebeknya sambil bergaya sambil ketawa-ketawa. Seperti dunia ini hanya milik anak muda.

Naas.. sepeda motor ketemu muka ke muka dengan mobil patroli polisi. Persis di tikungan patah itu. Karena memang bergerak dengan kecepatan lambat, si polisi langsung menghentikan mobil patrolinya. Ada empat pak polisi dalam kijang kapsul itu. Kelihatannya masih pangkat-pangkat rendah, karena memang masih sat-lantas. Keempat pak polisi langsung teriak-teriak, hingga perhatian kami di warung langsung tertuju kepada mereka. Si polisi menghentikan mobilnya. Tak sadar ia, berhenti di tengah jalan dan tikungan pulak.

Turun…Berhenti….Cepat…Sini…Sini…Awas kau….Dengan tekanan suara tegang, mata melotot, kepala terjulur keluar dari jendela mobil patroli. Seketika tawa tiga orang anak muda tadi hilang. Sepi. Pak polisi yang duduk di belakang bangku supir langsung turun mendekati sepeda motor pemuda yang sudah tak tertawa-tawa lagi.

Mulut polisi muda itu langsung komat-kamit seperti sedang mengucap mantra. Disertai jari telunjuk tangan menunjuk-nunjuk si pemuda. Si anak muda terdiam saja, lalu mencabut kunci motornya. Ia tak kuasa berdebat dengan polisi sat-lantas yang sudah terbiasa dan mahir mengintimidasi pengendara jalanan. Dari saku pak polisi keluar kitab terlipat-lipat kusut dengan satu bolpen biru. Pasti surat tilang pikirku. Catat punya catat, dan paraf. Tilang di tempat. Tilang di tikungan. Satu polisi lagi turun dari mobil patroli lalu memboyong motor pemuda. Mungkin saja dibawa ke kantor. Tanda bukti penangkapan.

Kurang lebih 15 menit tikungan ini mendadak berubah menjadi ajang penangkapan dan penghakiman. Gara-gara motor ketemu muka ke muka dgn mobil patroli. Gara-gara jalan sempit. Gara-gara warung yang menutupi jarak pandang pengemudi. Gara-gara si jabrik anak muda bergaya bonceng tiga dengan kawannya. Gak pake helem pulak. Mungkin saja juga tidak bawa STNK, SIM C dan lainnya. Komplit.

Polisi yang sejak tadi duduk bersama kami menikmati rujak siang, bergerak ke arah mobil patroli. Lalu seolah menceramahi si supir yang juga polisi sat-lantas. Kemudian si supir menunduk-nunduk lalu menggerakkan mobilnya mundur, menyepi ke bahu jalan. Tak lupa, polisi teman kami di warung mencatat nama dan nomor telepon si supir. Barangkali akan diberi peringatan, atau mungkin saja minta bagian dari transaksi yang baru saja terjadi. Entahlah…

Ketiga anak muda yang ditilang di tikungan lalu merapat ke warung tempat kami berada menikmati rujak dan sosro dingin. Panas terik. Melangkah dengan wajah lemas dan lesu. Antara ingin berontak dan melawan namun tak kuasa. Karena lawannya lebih kuat, empat orang pak polisi. Ekspresi wajah mereka seketika berubah, seperti kaget. Melihat ternyata di warung ini pun ketemu pak polisi lagi. Dunia apa ini, dimana-mana polisi. Naas lagi..

Saya sudah senyam-senyum. Lalu nyeletuk, “emang bisa yah ketemu di tikungan, lantas tilang di tikungan, berarti ini namanya tilang tikungan”. Kertas tilang ia lipat-lipat dan masukkan ke saku, memesan teh botol sosro. Kawan saya menjawab dengan, “tentu saja bisa, kalau mau ditilang”. Berarti kalau kita tidak mau dan melawan bisa gagal ditilang di tikungan. Bukankah tilang menilang itu hanya bisa terjadi pada saat operasi resmi dan razia resmi? Polisi yang di warung diam saja pura-pura tak mendengar percakapan kami. Anak muda tiga orang itu juga diam saja menyedot sosronya sambil pandang-pandangan dengan polisi di warung itu.

Lalu teman saya memanggil ibu-ibu si penjaga warung. Lantas berkata, berapa semua ini, yang di meja ini, itu juga ikut minuman anak muda itu. Kami berjalan berpamitan dengan seisi warung, beranjak pergi menggunakan kijang kapsul biru donker, yang mana kaca reben depannya ditempeli stiker besar-besar, COMMANDO.

One Response leave one →
  1. 2009 February 25

    WAAKKAKAKAKA

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS