Ritual

2009 January 7
by sattabi

Ritual. Kata yang sering sekali mengganggu pikiran. Karena memang dalam kaca mata Rosa, semua bidang kehidupan saat ini sedang digandrungi Ritual. Tak terkecuali di kota ataupun di kampung. Orang kaya atau orang miskin. Gandrung Ritual. Ritual harian, mingguan, bulanan, tahunan, dalam berbagai bentuk ekspresinya. Rosa pernah menuliskan kata-kata berikut dalam catatannya,

Dalam setiap community, lebih luas society, baik yang bersifat religius atapun sekuler dan bahkan yang berada di tengah-tengahnya, memiliki kecenderungan kebutuhan akan ekspresi, untuk mengekspresikan pikiran, rasa, karsa, dan cipta, yang sedikit banyak berhubungan dengan tema-tema inteligensi, emosional, dan sosial interaksi. Kebutuhan akan “ekspresi” ini kerap menjadi di-ritual-kan baik secara sadar ataupun dalam alam bawah sadar. Seperti disampaikan Carletoon Coon “..the need for ritualized expression that whole societies, whatever their sizes and degrees of complexity, need controls to ensure the maintenance of equilibrium, and controls comes in several forms. One is Ritual..”

Rosa berjingkrak-jingkrak kala “Judika” sang penyanyi Batak Ibukota malam itu gemuruh melantunkan nada-nada tinggi, ciri khas yang membawanya sampai ke tangga Indonesian Idol. Kota kecil yang masih mirip kampung, yang sepi, seketika meriah dengan popularitas Judika. Ia hadir di kota kecil ini atas undangan panitia (pemkab Samosir) untuk menghibur masyarakat kampung, dalam rangka merayakan hari jadi otonomi daerah Samosir. Tentunya kocek yang dikeluarkan untuk mendatangkan Judika dkk juga tidak sedikit. Sudah berapa kali? ini tahun kelima acara serupa digelar, mengundang artis-artis populer ibukota, dirikan pentas, dentuman alat musik menggoyang lapangan luas halaman SMA Negeri disana. Rakyat dari seluruh penjuru kampung berkumpul, berdecak kagum dan tersihir dalam alunan irama dan melodi. Kepiawaian artis-artis ber-rok pendek, berkulit putih bersih, ber-make-up ala madonna, bersuara melengking dan terkadang mendesah menggoda pejabat-pejabat daerah, sudahlah cukup untuk menggoda dan mendatangkan orang-orang dari sawah dan ladang. Turun ke acara pesta tahunan, ritual ulang tahun kabupaten.

Rupanya tidak hanya anak kecil saja yang gemar acara ber-ulang tahun, kabupaten pun gemar.

Rosa menyalakan Jarum Black kesukaannya. Menghirup asap dibawah siraman jutaan bintang di langit. Langit di kampung berbeda dengan langit di kota tempat Rosa kuliah. Langit di kampung banyak bintangnya. Kelakuan Rosa yang gemar merokok kerap menimbulkan banyak gossip dan bisik-bisik diantara orang sekampung. Bagaimana tidak, ia seorang wanita muda, tapi kok merokok yah? Berbagai gossip, bisik-bisik, dan kecurigaan yang kerap melintas di telinga Rosa tidak menjadikannya ambil pusing. Ia hanya mencoba berpikir sejenak. Mengamati kelakuan ribuan penduduk kabupaten malam ini. Tidak salah, ribuan orang berkumpul di lapangan malam itu. Ada yang sudah setengah mabuk tuak, mabuk vodka, mabuk whisky, mabuk Red label. Semua jenis minuman memabukkan ada di kampung ini. Bukan hal baru. Tua muda, kaya miskin, menyatu di lapangan, bernyanyi dan bergoyang. Mengelu-elukan Judika si Indonesian Idol, bintang yang menghibur penduduk kampung semalam suntuk.

Sehari sebelumnya, Rosa menyempatkan berjalan berkeliling. Ia tak bosan-bosannya mendatangi kampung-kampung. Sekedar menyaksikan kehidupan sederhana ala kampung. Seketika Ia teringat dan menjadi terheran, kenapa masih ada kampung yang tidak masuk listrik? Tak jauh dari jalan raya itu. Hanya beberapa puluh meter saja. Sedang malam ini, hiburan ritual tahunan, bertabur cahaya warna warni lampu sorot yang konon harga sewanya saja sangat mahal.

Sehari sebelumnya ia juga sempat berkenalan dengan seorang anak kampung bernama Martua, yang keadaannya memprihatinkan. Pakai alas kakipun tidak. Kaki ayam. Kenapa ada…?

Rosa yang pintar matematika di sekolahan, mencoba berhitung, kira-kira berapa dana dihabiskan untuk acara malam ini saja? Dekorasi pentas, bayaran artis-artis, sound system, panitia, keamanan, logistik dan dokumentasi, dllnya, totalnya 700juta. Malam ini Rupiah sebanyak 700 juta berlalu begitu saja. Untuk apa? Hiburan. Hiburan ulang tahun kabupaten. Hiburan kemaren habis berapa Rupiah yah?

Malam ini hanya salah satu dari puluhan hiburan dan ritual yang diselenggarakan pemda Kabupaten Samosir dalam setahun. Termasuk di dalamnya ritual Natalan dan Tahun baruan.

Rosa menyatukan jemari tangan kanannya hingga menyerupai bentuk tinju, lalu meninju telapak tangan kirinya. Ia tak berdaya, tak mampu bersuara, tak berkutik. Ia hanya bergumam meninggalkan lapangan malam itu, dan Rosa berlalu…

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS