BEDEBAH
…“Berisik sekali facebook mu Jol, gak punya kerjaan lain apah?” …sontak untaian kata itu membikin keningku kernit, mataku menyipit, mulutku mengutap terdiam, sudut bibirku berputar meliuk dihimpit gigi baris depan, tanpa sadar. Wajahku seketika menjauh dari monitor laptop ini, sepertinya hendak menghindar dari kata-kata itu yang seolah menerjang, menikam, menghentikan dengan paksa keasikanku sejak kenal facebook tiga bulan terakhir. Hampir tiap hari aku berfesbuk ria. Troubleshooting, coba sana sini sagala feature dan kelengkapan social network canggih ini.
Lantas dengan emosi membara, dalam perasaan seperti dilecehkan, dihina, diejek, aku buka wall sobatku itu, dan kata-kata makian mengalir dari sepuluh jariku pada barisan wall-comment miliknya: “anjeee**!!!, kont**!!! Bab*!!! Bangsa*!!! Jahana*!!! Suka-sukakulah, apa pulak urusanmu dengan aktifitasku!!!, apa pulak hakmu mengurusi kesenanganku!!! Siapa kau rupanya anjen*!!! Tutup mulutmu jahana*!!!
Entah sejak kapan aku doyan mengucap kata-kata yang biasanya dihindari orang itu, apalagi dilempar kepada sobat sendiri. Entah sejak kapan juga aku menjadi kebocah-bocahan, doyan bertengkar dan mempertentangkan hal-hal yang mungkin tidak penting. Apakah aku sudah berubah menjadi orang yang sangat sensitif? Diganggu sedikit lantas langsung berteriak, meracau, menerjang, mengucap sagala sumpah serapah, tanpa aling pikir? Dimana akal sadar dan akal sehatku? Apa yang merasuki diriku? Entahlah…namun jaringan internet tak mengijinkan sumpah serapah itu sampai di wall comment sobatku, Network is not connected, ERROR!!!. Fiuh.. aku tarik nafas dalam-dalam, kucoba back dan send command lagi…dan.. error lagi… internet keparat!!! Langsung saja window mozilla, browser kesukaanku, kututup dengan tekanan telunjuk pada mouse sekeras-kerasnya. Dan monitor laptop kututup segera.
Kuseduh secangkir kopi dari dapur, kusundut ujung batang jarum black, kuhirup asap tembakau itu dalam-dalam, cukup lama…hingga kuhembuskan dengan rasa lepas..bebas… pukul 19.30 Aku seorang diri di rumah, duduk di sofa menghadap meja dan laptop. Bunda dan adikku no.2 pergi ke gereja, menyaksikan adikku paling bungsu ber-liturgi, merayakan ritual natal. Kalau dia masih menganut paham agama kristen pasti hobby acara yang beginian, hobby dengan ritual beginian. Aku sudah terang-terangan menghindar dari segala macam ritual dan bait itu sendiri, bahkan kepada ibuku yang membesarkanku dari profesi guru agama kristen sekalipun, juga telah seringkali mendebat keras denganku.
“Katanya : jangan lihat bangunan gerejanya amang, tapi pandanglah ke atas, Kasih Jesus itu lah yang telah membesarkanmu 25 tahun umurmu sekarang, melalui ibumu sendiri anakku, bangunan gereja itu akan berlalu, tapi kasih Jesus adalah kekal selamanya anakku…”
“Tak kuasa aku berdebat denganmu mama, bagaimanapun kaulah ibuku, yang telah membesarkan ku 25 tahun, aku hidup dari air susumu, bagaimana mungkin aku tak menyayangimu? Ah, sudahlah bunda, tak muat akalku dengan tuhanmu itu saat ini, belum sanggup akalku menerjemahkan tuhanmu yang kau agungkan itu. Lagi pula sudah aku tak percaya dengan surga dan nerakamu, sudah aku tak percaya dengan malaikat dan setanmu. Aku tak peduli apa kata orang. Saat ini, bagiku itu khayalan. Sudah cukup aku hanyut menghayal 25 tahun mama, kumohon mama…jangan paksa aku menghayal lagi… hanya ucap yang bisa kuungkap sekarang untuk mu, TERIMA KASIH untuk 25 tahun.
Dan mama, sepertinya khalayan inilah yang membuat rumah bordil 20 rumah di sebelah timur rumah kita itu masih saja sibuk tiap malam. Sibuk dengan manusia-manusia yang bergulat dan bernafsu di bawah atapnya. Keherananku belumlah hilang mama, di tiap sudut kampung kecil ini ada saja bangunan megah yang dinamai bait suci, namun disana, di bawah atap itu, tua-muda, adam-hawa, serasa membentuk dunianya sendiri, asik bergulat ditemani sejuknya lonceng gereja tiap 6 pagi dan 6 petang. Dan aku tak lupa mama, negeri ini katanya negeri bermoral, negeri beragama, tapi begitu banyak yang tak bisa kupahami paradox dari kehidupan di bumi nusantara ini. Entah…
Mamaku tak melepaskan pandang kepadaku dua malam sebelum kejadian facebook ini kami mendebat. Kusambung lagi bicaraku, “..dan lebih herannya mama, tak jauh dari rumah perkumpulan itu, ada sekolah mama…sekolah dasar!!!… dan mama tau sendiri, sekolah SD itu adalah sekolahan mama sendiri, tempat mama mengajar pendidikan agama kristen. Dan setiap pagi murid-murid sekolah, generasi muda bangsa ini berjalan melewati halaman rumah itu.
“Aku tak habis pikir mama…bagaimana kelak mental anak-anak kecil yang belum tau apa-apa ini. Kau pikir anak kecil itu tidak tau itu rumah adalah rumah bordil? Oukup? Dan berapa anak kecil kampung ini yang sudah tau bapaknya sering nangkring di Oukup itu? Tapi mulutnya terdiam mama, bagai ditempeli lem alteco, tak mampu berucap sepatah kata pun terhadap orang tuanya.
“Natua-tua I do Debata na niida, begitu pepatah Batak mama, orang tua itu adalah dewa bagi anak…yahh dewa yang suka selingkuh?, suka bermain wanita?, suka nongkrong di rumah bordil?
“Kalau saja aku jadi anak yang bapaknya seperti itu, kira-kira apa yang akan kulakukan? Apa yang akan keluar dari mulut kecil ini? Pantaskah seorang anak kecil berbicara moral? Berbicara keadilan? Berbicara mana yang benar mana yang salah? Menghakimi orang tuanya sendiri? Darah dagingnya?
“Bunda…bait suci itu dan orang-orang sucinya saja sudah tidak mampu berbicara moral. Mereka diam saja kan mama…? Dan mama pun sebagai guru agama anak SD juga ikut-ikutan diam saja kan? Pemerintah penguasa kabupaten ini juga diam saja kan? Aku capek baca alkitab itu mama, katanya itu adalah dosa yang sangat besar!!! Tapi..kok banyak orang tidak mengindahkannya lagi?
“Anakmu tidak akan tinggal diam bunda…kau telah mendidikku untuk selalu jujur dalam pikiran dan tindakan!!
Pikiranku masih saja tertuju pada komentar facebook sobatku, masih panas ubun-ubunku, kutenangkan pikiran, kuhirup lagi asap tembakau itu berkali-kali.
Kemudian bermacam rangkaian hubungan kata dan tanya bermunculan di otakku. Apa pulak itu facebook yah? Bisa digunakan untuk apa pulak, selain iseng-mengisengi teman dan kenalan di ujung sana, entah di kota mana. Aku tau, di dunia maya ini tak penting seorang berasal dari mana, kerjaannya apa, keturunan siapa, bangsa mana, warna kulitnya apa, bentuk jidatnya seperti apa, besar kupingnya bagaimana, jumlah uang di dompetnya berapa, punya bini-anak berapa, model pakaiannya terbaru atau tidak, orang saleh atau kriminalkah, pendeta-kiai-santo-biksu atau jahanamkah, dan sebutkanlah apapun yang muncul di otakmu.
Yang pasti, dunia virtual tak mengenal sekat, tak mengenal perbedaan, tak mengenal latar belakang, tak mengenal usia, tak mengenal jabatan, tak mengenal profesi. Mulai dari pelacur, jahanam, kriminal, sampai ke anak sekolahan, anak kuliahan, tukang sayur sampai tukang pembikin pesawat ulang alik, semuanya SAMA, sekali lagi SAMA. Tidak ada surga dan neraka disini. Yang membedakan disini adalah, manusia itu Gaptek atau tidak. Kalau dia gaptek, maka tersisihlah dia dari dunia teknologi baru ini. Ayahku pintar berpidato, pandai bergaul, tokoh masyarakat, Raja adat marga XXX sedunia, tapi dia tak tahu menahu soal internetan ini. Maka jelas dia sudah tersisih dari dunia ini, tak masuk hitungan disini, kecuali dia mau belajar dan belajar. Sepertinya sampai matipun ia tak kan mau belajar memakai dan menggunakan dunia virtual ini. Untuk apanya pulak?
Lantas aku yang tidak gaptek dan bisa memakai teknologi baru ini bagaimana? Pertanyaan itu pun muncul ke permukaan, dari sontakan komentar pendek sobatku itu. Lama sudah aku bertanya-tanya, sejak duduk di bangku kuliah. Aku yang berasal dari masyarakat tradisional telah berkenalan dengan masyarakat modern. Buatan siapa pulak internet ini? Amerika dan Eropa. Bill Gates dan microsoftnya lah yang menduniakan kevirtualan ini. Untuk generasiku, ke-maya-an dunia virtual ini sudah menjadi ke-nyata-an. Lamat-lamat tak terpisahkan lagi, internet ini sudah menjadi budaya baru bagiku dan generasiku. Facebook ini sudah menjadi aktualisasi baru bagi kami generasi millenia. Dan komentar kawanku mengancam keasikanku berkenalan dan menyatu dengan dunia baru ini.
Kalau kau membaca tulisan ini sobat, lantas bagaimana menggunakan teknologi ini? Kutanyalah kau, jawablah aku, sekarang!!!
Lagian bukan negeri kepulauan ini juga yang menciptakan kecanggihan dan kemewahan abad 21 ini. Sudah 500 tahun sejak Majapahit, tak menentu nasib dan kepribadian bangsa ini. Sebagian orang kata ini negeri kepulauan dihuni orang-orang yang bermental INLANDER, mental CORRUPT, bangsa kelas-3, INFERIOR. Apa sudah sumbangsih negeri ini terhadap majunya jaman? Itu jadi PR kita kawan.
Imperialisme Barat 350 tahun masih saja tetap berlanjut di mataku sekarang. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, semua yang kukenakan ini tak ada buatan manusia negeri kepulauan. Semuanya adalah hasil karya dan product import, dari pabrik-pabrik milik imperialis ekonomi itu. Tak berdaya kita, iyah..memang tak berdaya menghadapi tekanan dan kekuasaan ekonomi, politik dan bahkan budaya mereka.
Ingin ku telanjang saja rasanya berjalan-jalan, karena bangsaku adalah bangsa telanjang, bangsa pengecut, bangsa yang bermegah diri diatas kemajuan dan kecanggihan bangsa lain. Dan lebih aneh lagi kebanyakan manusia bangsa ini masih saja hanyut dengan khayalan Tuyul dan mba yul, mujijat, sorga, neraka, nenek moynag dan nenek lampir, dewa-dewi, ahhh utopis khayalan.
SAMPAI KAPAN ?
Sampai kapan bangsa kita ini terjebak dengan alat imperialis barat itu? kita asik jegal menjegal, sikut menyikut, bunuh membunuh, hanya karena beda aliran, beda keyakinan, beda kepercayaan….
HEIIII mereka tertawa disana, mereka senyam senyum disana, menyedot minyak bumi, batubara, timah, besi, aluminium, emas, hutan, negeri kaya raya ini. Yahh…dengan alat mereka itu bangsa kita berhasil disihir…disihir menjadi bangsa yang hidup dalam khayalan…
Lihatlah sekitarmu, pandanglah tanah yang kau jejak, tataplah mata yang menderita itu, menderita dalam kemiskinan dalam kebodohan, ditakuti pulak dengan penderitaan neraka, siksa kekal…
aihhhhhh……SAMPAI KAPAN ?
Terima kasih komentar pedasmu kawan. Kuakui aku memang orang berisik dan tidak punya kerjaan… Bagiku Berisik dan berkoar-koar masih lebih baik daripada diam tak berarti.
Kini kau kutantang…
Apa yang akan kita lakukan terhadap bangsa ini? JAWAB AKU SEKARANG BEDEBAH!!!!
Samosir, 22 Desember 2008




